Kamis, 24 Juni 2010

Madiun to Solo

Pulang dari Madiun ke Solo, asyiknya lewat Sarangan. Kelak kelok jalan pegunungan, dibalut pemandangan alam yang aduhai, pasti ga rugi. Sesampainya di atas, kusempatkan berhenti untuk sedikit menikmati keindahan panorama danau Sarangan & sejuknya udara pegunungan yang dibalut kabut tebal...

Turun melalui jalur Tawangmangu, tidak lupa kuhangatkan badan dengan mampir ke "Sop Buntut Bu Ugi" yang cukup terkenal. Sedep... mantep... anget...

Nyak~nyak...

Siang ini, masih di Madiun ini ceritanya, baru aja selesai meeting penutup setelah kunjunganku selama 2 hari di sini. Pas banget ini, perut mulai terasa lapar, wah rupanya sudah disiapkan hidangan penutup yang khas, & mungkin hanya satu-satunya, karena resep hidangan penutup ini diracik & dimasak sendiri oleh ibu dari pemilik perusahaan yang sedang kukunjungi ini, bahkan beliau juga mengatakan bahwa jangan harap kita bisa menemukan makanan ini di lain tempat, kecuali setelah ini ada yang coba membuatnya. Karena cukup unik & enak, makanya coba kubagi di sini, siapa tau bisa jadi inspirasi bagi yang suka coba-coba masak makanan yang seperti ini.


Nama masakannya tidak diketahui, karena yang masak pun gak tau namanya, hehehe. Isi dari hidangan tersebut kira-kira adalah seperti ini:

Ketan digunakan sebagai pengganti nasi, di atasnya ditaburi parutan buah kelapa. Kemudian di sekelilingnya, lauk pauk cukup lengkap, mulai dari telor dadar yang di dalamnya diisi dengan potongan sayur-sayuran, dendeng daging sapi, ikan asin, ikan kering asin, kering tempe, & sambal goreng.

Sepintas mungkin biasa aja, tapi apakah pernah makan yang seperti ini???

Coba deh bikin, pasti enak ^^ kalo bisa masak lho ya....

Apalagi selesai makan, masih ada hidangan penutup yang sebenarnya dipakai sebagai bekal kalau nanti pulang ke Solo...
ini nih salah satu makanan (roti) terkenal dari Madiun.
Jika ada kesempatan, coba deh buat cari roti ini, dijamin ga menyesal, baik tekstur roti yang sangat lembut maupun rasanya, sungguh uenyak... nyak... nyak... nyak...

Rabu, 23 Juni 2010

Sarapan pagi

Setelah semalam terlelap di sebuah hotel di Madiun, tibalah saatnya sarapan pagi. Menu yang sama seperti pada kunjunganku sebelumnya di kota ini, nasi goreng, beberapa lauk daging goreng maupun kuah, roti yang siap dibakar lengkap dengan selainya, minuman buah segar & juice, serta ada pula teh & kopi.

Sesaat tertenggun, mulai memilih menu apa yang akan kuambil. Kuputuskan nasi goreng dipadu dengan lauk ayam goreng & sedikit sayuran. Berikutnya mulai menyeduh kopi panas, kemudian memenuhi sebuah gelas dengan air putih & juice buah yang awalnya kupikir segar, tetapi ternyata rasanya mirip rujak >.<, di gelas yang lain.

Aktifitas hari ini kuawali dengan sarapan lengkap yang mudah-mudahan bisa menjadikan energi yang cukup untuk sehari.

Selasa, 22 Juni 2010

Mengenal Solo (makan edition 2)

Daripada meneruskan (edit post) postingan yang lama mengenai makanan di Solo pada postingan "Mengenal Solo (makan edition)", takut kepanjangan, akhirnya kuputuskan untuk posting tulisan ini.

Sengaja kuberi judul "makan edition 2" karena ini memang hanya bersifat lanjutan aja dari postingan sebelumnya dengan topik yang sama.

Intinya, tempat makan yang akan coba kubagikan di sini adalah tempat makan yang bisa dicoba dengan harga yang tidak harus mahal, tetapi dengan rasa yang enak menurutku, karena memang didasarkan pada pengalamanku pribadi sewaktu singgah di tempat-tempat ini. Enak memang relatif, tetapi namanya juga berbagi, ya kubagikan yang menurutku enak saja ^^.

Mau makan ayam goreng kampung yg uenak?? di sini tempatnya. Berada di Jl. RE. Martadinata, sekitar 20 Meter dari jembatan pasar Tanggul, Bebek Penyet Bu Minche bisa ditemukan. Jika dilihat dari tulisannya memang bebek goreng, tapi hasil survey pribadi mengatakan, ayamnya jauh lebih istimewa, apalagi disajikan dengan sambal trasi ulek mentahnya yang sungguh bisa menggugah selera. Buka dari jam 5 sore hingga malam hari. Harga per potong ayam sekitar Rp.12.000,-. Ayam kampung asli lho. (Saat ini sudah tutup, tp digantikan oleh tetangganya dengan menu yang hampir sama).

Kalo pas siang-siang melintas di jalanan kota Solo, mana hawa'nya sedang panas pula, ada alternatif yang sangat pas buat singgah, istirahat barang sejenak sambil menenggak juice buah yang super duper mantap. Hanya dengan Rp.5.000,-/gelas besar, dijamin kamu puas. Cukup banyak penjual juice buah di kota ini, tetapi kalo belum pernah mencoba yang satu ini, katanya belum pernah minum juice buah yang sebenarnya. Berlokasi di jalan Bayangkara, persis di samping stadion Sriwedari Solo, Pak Gendon alm. (pemilik) membuka depot juice-nya bersama dengan adiknya yang mempunyai lokasi yang berdekatan satu sama lain. Juice buahnya benar-benar mantap, karena dibuat dari 100% buah asli. Gulanya pun menggunakan 100% gula pasir. Ice Juice Bayangkara, salah satu lokasi paling oke untuk beristirahat di siang hari, malam hari pun masih ok, karena depot juice ini buka dari jam 12 siang sampai jam 8 malam (kecuali sudah habis).
Mau yang kanan ataupun yang kiri, semuanya sama mantapnya, karena sama-sama diracik oleh yang ahlinya. Sekali coba, pasti malas minum juice di tempat lain (berdasarkan pengalamanku pribadi).
Berikut ini lokasi depot juice-nya:

Kamis, 17 Juni 2010

Pagiku lagi

Aduh aduh, knapa lagi ini kepala rasanya pening. Baru juga nyampe di kantor. Haahhh~ (menghela nafas).
Tapi tunggu!!! ini hari Kamis ya?! hehehe, wahhh senangnya, tau-tau udah menjelang akhir pekan lagi. Kalo ada yang dikerjain terus tiap hari, rasanya hari itu bener-bener cepet lewat. Sekarang aja bilang udah hari Kamis, besok tau-tau bisa ngomong hal yang sama “wahhh sudah hari Kamis lagi ya…”

Ngga seperti dulu ya. Waktu masih kecil, ngabisin sehari aja rasanya kadang lamaaaaa banget. Apalagi kalo udah yang namanya masuk ke sekolah hari pertama sehabis liburan panjang pergantian “cawu” (catur wulan, ini buat yang ngalamin ajah). Ya mungkin sedikit banyak hampir sama seperti kalo kita masuk kerja di hari Senin, pagi pula. Tapi ya inilah yang namanya kehidupan.

Kalo kuberi perumpamaan mungkin sama seperti makanan. Coba anak kecil berumur 6 tahun (sekitar kelas 1 SD ya), kasih mie rebus 1 mangkok (misalnya saja Indomie) suruh makan. Mungkin bisa habis buat yang bisa makan banyak, tetapi untuk sebagian anak lainnya yang seumuran, itu porsinya kebanyakan, sampe-sampe buat ngabisin aja butuh perjuangan karena kebanyakan. Tapi kalo kakaknya yang katakanlah usia SMP, dikasih mie rebus itu disuruh makan, pasti habisnya cepet, bahkan mungkin kalo cuman 1 porsi kurang banyak untuk bisa mengenyangkan perut. Menurutku hal ini sama seperti waktu, semakin kita dewasa, buat ngabisin waktu 1 hari dengan segala rutinitas kita aja kadang-kadang sampe kurang cukup waktunya. Berbeda dengan anak kecil yang mungkin belum terlalu banyak memikirkan tentang hal-hal kehidupan, isinya cuman main, seneng-seneng, so easy going keknya, namanya juga anak-anak hahaha.

Hal ini jugalah yang kadangkala membuat kita harus berpikir mengenai apa yang bisa kita lakukan, apa yang mesti kita dahulukan, apa yang bisa ditunda?!

Dengan waktu yang terasa makin singkat ini, hal baik apa yang belum & harus kita dahulukan…

Apa ya…???

Selasa, 15 Juni 2010

Mengenal Solo (makan edition)

Sebelum lanjut ke pengenalan Solo yang lain, kurang pas rasanya kalau nggak membahas yang satu ini. Apakah itu?... tempat makan tentunya.

Di postingan yang ini, akan coba kubahas tempat-tempat makan yang mungkin sedikit berbeda dari informasi tempat makan di Solo pada umumnya. Seringkali kita tahu bahwa info-info yang banyak beredar, menawarkan tempat-tempat makan yang biasanya sudah agak terkenal di mata pecinta kuliner kota Solo. Di sini akan coba kuulas tempat makan berdasarkan pengalaman pribadi saja, tidak harus mewah tetapi istimewa rasanya menurutku, minimal aku pernah makan di sana supaya bisa cerita bener-bener, hehehe.

Hik Mas Nano. Berlokasi di perempatan Penumping (terkenalnya bundaran ringin), di belakang Solo Grand Mall. Hik di sini cukup istimewa menurutku. Yang membedakan dari hik-hik lainnya adalah nasi bungkus (sering disebut nasi kucing) yang dijual dimasak sendiri di rumah & bukan hasil titipan dari para penjual-pejual nasi seperti warung hik kebanyakan. Mas nano sebagai pemilik sekaligus penjualnya kebetulan adalah warga kampung sekitar. Apabila ada pembeli & kemudian nasinya habis, seringkali diambilkan dari rumahnya terlebih dahulu yang tidak jauh dari lokasi berjualan, sehingga nasi pun terasa masih hangat. Nasinya dijual dengan harga Rp.1.000,-/bungkus, macamnya antara lain nasi oseng (istimewa), nasi bandeng (selalu menggunakan bandeng presto), & nasi teri. Tentunya dengan begini, kita bisa lebih yakin jika makan di warung hik ini dibandingkan dengan warung hik lain yang kita tidak pernah tahu bagaimana kualitas makanannya. Racikan teh-nya juga istimewa, karena menggunakan resep campuran dari 3 jenis teh yang sudah dipilih dari dulu. Warung buka dari jam 2 siang (umumnya) hingga tengah malam. Pembeli yang ada di situ juga kebanyakan orang-orang yang sudah jadi langganan, sehingga suasana kekeluargaan pun sangat terasa di sana. Hari Minggu biasanya tutup.

Bagi penyuka masakan babi, ini tentunya bisa dicoba, kedai babi Yordan. Selera pedas yang ditawarkan sungguh mantap. Bisa dipilih antara rica-rica babi (istimewa), tongseng babi, maupun sate babi. Dengan harga masakan Rp.7.000,-/porsi, tentunya sangat terjangkau. Berlokasi di sudut perempatan pasar Legi Solo, buka dari jam 6 sore hingga malam.

Satu lagi alternatif bagi penyuka masakan babi, sate babi Ong. Dari namanya bisa kita tahu bahwa spesialnya adalah sate. Tetapi setelah kucoba sendiri, ternyata ada yang lebih istimewa menurutku. Tentunya kita sudah sering menikmati yang namanya baikut, biasanya dihidangkan dengan sayur asin. Pernahkah menikmati baikut yang digoreng? Ya, di sini menyediakan baikut goreng. Baikut dibumbui supaya rasanya gurih, kemudian digoreng hingga terasa renyah (crispy) pada saat kita nikmati. Sungguh nikmat dengan sajian khasnya yaitu sayur asin. Awalnya aku sendiri tidak pernah suka yang namanya sayur asin, tetapi ketika mencoba sayur asin di sini ternyata bisa menikmati. Dengan harga Rp.12.000,-/porsi kupikir ini patut dicoba. Lokasinya berseberangan dengan kantor perkumpulan Fu Qing & PMS di jalan Juanda. Buka dari jam 6-an sore hingga malam.

Rosalia Indah, ya dari namanya memang ini adalah nama salah satu jasa angkutan (bus) di Solo. Berawal dari sebuah perusahaan jasa transportasi, kini Rosin mulai merambah ke bidang-bidang usaha yang lain termasuk kuliner. Cukup banyak perusahaan transportasi, khususnya bus, yang kini menyediakan restoran di pangkalannya. Rosin sengaja kutampilkan karena setelah mencoba, ternyata masakan yang tersedia di sini lumayan bisa dinikmati. Tidak hanya enak, namun jenis masakannya pun cukup bervariasi, dari masakan jawa, padang, sampai yang ala barat. Kalo harga ya… relatif lah, ngga mahal-mahal banget kok. Buka setiap hari, karena mungkin awalnya difungsikan untuk melayani para penumpang bus yang ada di sana. Lokasinya sangat mudah ditemukan, karena berada di pinggir jalan raya Solo – Sragen, jalan penghubung dari Solo ke arah Jawa Timur. Boleh lah sekali-kali siapa tahu lewat mampir ke sini untuk mencoba.

Ayam & bebek goreng Mas Anto, disajikan dengan kremesan yang renyah & sambal korek (sambal bawang putih), wahhhh…. bayangkan saja … so hot…, tapi tentunya tidak hanya hot, karena rasanya pun sedap. Dengan harga per potong rata-rata Rp.12.000,- kita sudah bisa menikmati gurih & sedapnya ayam ataupun bebek goreng di sini. Wah wah, nambah lagi ini ilmu kulinernya. Sangat patut dicoba jika kamu melintas di jalan raya Palur, Karanganyar. Jika melintas dari arah Solo menuju ke Karanganyar, kira-kira hanya berjarak 500 meter sebelah kiri jalan. Lokasinya juga tidak jauh dari Luwes Mal Palur (hampir bersebelahan). Buka dari siang hingga malam hari. Untuk menu ayam, di sini menyediakan ayam kampung & ayam potong. Jadi jika berminat untuk mencoba, jangan terlalu sore datangnya, karena untuk ayam kampung bisa jadi kehabisan.

Lokasinya tidak jauh dari “ayam & bebek goreng Mas Anto”, sekitar 100 meter setelahnya (asumsi melintas dari arah Solo menuju Karanganyar), lebih tepatnya berlokasi persis di depan/seberang Luwes Mal Palur. Dengan bermodalkan warung tenda sederhana, mie ayam & bakso Mas Joko, atau lebih dikenal dengan sebutan Miso Palur, buka dari jam 10 pagi hingga jam 7 malam. Dengan harga yang cukup murah, Rp.4.500,-/porsi, kita sudah bisa menikmati miso yang sedap mantap. Kalau beruntung, terkadang kita bisa mendapatkan tambahan ceker ayam yang dimasak jadi satu dengan bumbu ayam untuk racikan mie-nya. Satu lagi menu istimewa dari kawasan Solo & sekitarnya.

Pagiku

Suara mesin pompa air mulai meraung-raung di telingaku ketika kusadari jam sudah menunjukkan pukul 5 pagi. Badan ini pun masih enggan untuk kuajak bangun. Sedikit demi sedikit mataku mulai terbuka dan bisa melihat dengan jelas.

Hooahhmmm...... masih ngantuk sekali rasanya.

Sesaat kuterdiam, perlahan-lahan kumulai bangun hingga akhirnya berhasil memposisikan diri untuk duduk di ranjangku. Setelah beberapa saat, kuputuskan untuk berdiri mengambil air putih untuk kuminum. Ah... segar sekali pikirku. Entah kenapa, setiap kali terbangun dari tidur rasanya haus sekali.

Mulai dengan mengambil remote tv lalu menyalakannya untuk memecahkan kesunyian di pagi ini. Siaran berita hampir selalu menemaniku di pagi hari. Sambil mendengarkan siaran berita di tv, aku mulai mempersiapkan diri untuk berangkat bekerja, tentunya dimulai dengan mandi pagi dulu.

Air terasa sangat dingin pagi ini. Maklumlah, hampir semalaman hujan turun mengguyur kota Solo. Di luar kamar pun angin terasa sangat sejuk, bahkan masih nampak diselimuti oleh kabut tipis. Di atas langit terlihat sangat cerah. Dalam hati berpikir: "wah, bakal panas nih hari ini".

Kemudian aku mulai melangkah ke arah parkiran mobil, kuambil kain pembersih, kunyalakan mesinnya, lalu kuseka embun pagi yang membasahi kaca mobilku. Ya... memang di parkiran mobilku tertanam cukup banyak pepohonan sehingga setiap pagi mobilku selalu basah oleh embun yang berlimpah, di samping tadi malam disiram oleh air hujan. Setelah kurasa cukup, aku mulai masuk ke kursi kemudi, lalu berangkatlah aku ke kantor.

Wah, pagi ini memang cerah. Ketika kulihat tugu Slamet Riyadi tiba-tiba keisenganku mulai muncul, kuambil kamera yang selalu tersedia di laci mobil, mulai ku'jepret. Begitu pula beberapa lokasi yang kebetulan kulewati, siapa tau ada gambar yang bagus yang bisa diabadikan. Di belakang tugu Slamet Riyadi nampak air mancur yang menambah cantiknya kota ini. Nampak pula sebuah gedung lama (mungkin bangunan Belanda), yang kini difungsikan sebagai kantor Bank Indonesia. Bentuknya pun masih asli dengan ornamen-ornamen khas-nya.


Beginilah suasana pagi saat kuberangkat menuju ke tempat kerja.

Senin, 14 Juni 2010

Mengenal Solo (part 1)

Surakarta adalah sebuah kota besar di Provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Nama lainnya adalah Solo atau Sala. Di Indonesia, Surakarta merupakan kota peringkat kesepuluh terbesar (setelah Yogyakarta). Sisi timur kota ini dilewati sungai yang terabadikan dalam salah satu lagu keroncong, Bengawan Solo.

Eksistensi kota ini dimulai di saat Kesultanan Mataram memindahkan kedudukan raja dari Kartasura ke Desa Sala, di tepi Bengawan Solo. Akibat perpecahan wilayah kerajaan, di Solo berdiri dua keraton, menjadikan kota ini pernah menjadi kota dengan dua administrasi. Situasi ini berakhir setelah kekuasaan politik kedua kerajaan ini dilikuidasi setelah berdirinya Republik Indonesia. Selanjutnya, Solo menjadi tempat kedudukan dari residen, yang membawahi Karesidenan Surakarta hingga tahun 1950-an. Setelah karesidenan dihapuskan, Surakarta menjadi kota dengan kedudukan setara kabupaten (Daerah Tingkat II). Semenjak berlakunya UU Pemerintahan Daerah yang memberikan banyak hak otonomi bagi pemerintahan daerah, Surakarta menjadi berstatus Kota.

Surakarta memiliki semboyan "Berseri", akronim dari "Bersih, Sehat, Rapi, dan Indah", sebagai slogan pemeliharaan keindahan kota. Untuk kepentingan pemasaran pariwisata, Solo mengambil slogan pariwisata Solo, The Spirit of Java yang diharapkan bisa membangun citra kota Solo sebagai pusat kebudayaan Jawa.
check this!


Itulah gambaran kota Solo yang bisa kita jumpai seperti di banyak situs yang beredar luas di internet. Mendadak terpikir, asyik juga kalo kucoba untuk mulai bercerita sedikit demi sedikit mengenai kota ini, acak tapi mudah-mudahan bisa dimengerti.

Aku adalah satu dari sekian banyak pendatang yang kini ikut tinggal memenuhi kota Solo. Sebagai seorang pendatang, hampir 85% kehidupanku kini kuhabiskan di kota ini karena pekerjaanlah yang menuntutku seperti itu.

Aku sendiri sebenarnya lahir di Rembang, sebuah kota kecil di ujung timur pesisir pantura, Jawa Tengah. Keluar dari Rembang untuk kuliah di Jakarta, hingga akhirnya bekerja di Semarang, yang pada akhirnya berlabuh di Solo. Cukup panjang perjalananku hingga akhirnya terdampar di Solo ini. Mungkin lain kali akan kuceritakan mengenai perjalanan panjangku itu secara terpisah.

Aku mulai menginjakkan kaki di Solo pada tanggal 1 Maret 2008. Ini adalah kedatanganku yang kedua setelah pada sekitar tahun 2000 pernah juga datang ke Solo sekalipun hanya 1 malam 1 hari, dalam rangka berpartisipasi dalam Pekan Olah Raga Daerah sebagai seorang atlet Wushu perwakilan Rembang pada waktu itu. Tentu kali ini terasa sangat berbeda, karena kali ini aku menginjakkan kaki mungkin untuk waktu yang sangat lama, yaitu untuk bekerja di kota ini. Ya..., ini karena penempatan kerja dari perusahaan di mana aku bekerja.

Hari-hari awal, kugunakan untuk mengenal jalanan yang ada di kota ini. Sebagai seseorang yang baru sama sekali di kota ini, tentunya tidak mudah jika harus menghafal jalanan yang begitu banyak dalam waktu yang singkat, apalagi kalau diperhatikan, sangat banyak jalan-jalan kecil yang adalah jalan utama di kota ini. Bukan jalan tikus, tetapi ini memanglah jalan utama yang kebetulan tidak begitu lebar seperti jalan raya kota, seperti Jl. Slamet Riyadi ataupun Jl. Adi Sucipto.
Di sepanjang jalan nampak cukup banyak bangunan yang bisa dikatakan masih bangunan lama/kuno yang masih terpelihara dengan baik sampai sekarang. Inilah salah satu hal yang kemudian membuat Solo banyak dikenal karena keasliannya dalam menjaga cagar budaya, misalnya bangunan lama. Bahkan di tengah kota, masih berdiri bangunan-bangunan utama peninggalan Kerajaan jaman dulu, seperti Mangkunegaran & Keraton Solo, yang juga masih sangat diminati sebagai obyek wisata oleh turis baik domestik maupun mancanegara. Yang juga menarik, jalanan yang adalah jalan masuk Keraton, telah dipakai sebagai jalan umum sehingga kita bisa bebas keluar masuk melalui jalan yang melintas di dalam Keraton, dengan bentuk dan ukuran yang masih sama seperti jaman dulu, hanya saja sudah di-asphalt...

Oh Solo...

Soreku...


Sesaat kuperhatikan jam dinding, sudah pukul 5 sore rupanya...

Sembari membuka-buka email yang masuk, kucoba menulis di sini.

Ini adalah pertama kalinya aku belajar menulis di blog, setelah tadi siang mencari-cari informasi untuk membuatnya.

Keinginan ini sudah lama muncul sebenarnya, tetapi terkadang kita terjebak dalam lingkaran waktu kesibukan kita sehari-hari, sehingga meluangkan sedikit waktu untuk menulis saja tidak sempat. Kalau dipikir-pikir, antara penting dan tidak penting juga sih... (ini menurutku lho ya).

Dalam tulisan perdana ini (sekalipun sebenarnya ini adalah tulisan kedua setelah yang sebelumnya), baru terpikirkan untuk menuangkan apa yang saat ini terlintas di kepalaku.

Duduk di salah satu sudut meja di kantorku, menghadap tepat ke meja-meja lain yang tersusun rapi di depanku, sambil memperhatikan anak buah (oopss, mungkin lebih enak kalau disebut rekan kerja), menyelesaikan pekerjaan mereka. Ya, beginilah aktifitasku hampir setiap sore jika sudah berada di kantor.

Kucoba merenungkan kejadian-kejadian hari ini. Banyak hal, tetapi kurang menarik untuk dibahas di sini. Hanya keseharian yang terkadang terasa agak membosankan. Macetnya lalu lintas, teriknya matahari yang seringkali mendadak berubah menjadi mendung bahkan hujan, telepon dari para colleague, dan sebagainya.

Terkadang sempat terpikir, apakah akan seperti ini terus ya...

Bersyukur


Ada kalanya kita bahagia, ada kalanya kita bersedih. Semua itu relatif menurut saya.
Kebahagiaan & kesedihan itu sendiri kadangkala sangat tipis perbedaannya.

Dari lahir, perlahan menjadi dewasa. Banyak sekali yang akan kita jumpai seputar kebahagiaan & kesedihan, karena memang itulah yang selalu mewarnai kehidupan kita sehari-hari.

Namun ada 1 hal yang menurut saya adalah kunci di mana kita bisa selalu menapakkan kaki kita di setiap langkah kehidupan ini... "bersyukur".

1 kata, namun cukup besar makna yang terkandung di dalamnya.
Kita wajib bersyukur atas segala apa yang menimpa kita. Bukan masalah keberuntungan, tetapi inilah satu-satunya hal yang akan membuat kita sanggup untuk membuang segala sisi negatif pada kehidupan. Bersyukur, membuat kita bisa bergerak maju dengan penuh antusias.
Apa lagi yang bisa meringankan hidup kita selain bersyukur?!

Pernah saya membaca dari suatu literatur: semakin banyak kita bersyukur, maka makin banyak pula yang akan kita terima, tetapi semakin banyak kita mengingkari, maka semakin berat beban yang kita jejalkan pada diri kita.

Kita tak akan pernah bisa berhasil dengan menggerutu & berkeluh kesah. Tetapi, kita akan berhasil jika kita berusaha. Sedangkan usaha itu akan kita lakukan, karena kita melihat sisi positif akan apa yang akan kita lakukan itu.

Hanya dengan bersyukur, kita bisa melihat sisi positif itu pada pandangan kita...